Sunan Drajat: Sang Dermawan dari Pesisir yang Mewujudkan Islam dalam Tindakan Nyata
Asal Usul dan Latar Belakang
Nama aslinya adalah Raden Qosim, putra dari Sunan Ampel, salah satu tokoh penting Walisongo. Sejak kecil, Raden Qosim tumbuh di lingkungan pesantren yang dikelola ayahnya, dikelilingi oleh para santri dan ulama. Ia tidak hanya menghafal ayat-ayat suci, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana sang ayah mendidik masyarakat dengan kasih sayang, hikmah, dan kesabaran.
Dari kecil ia sudah berbeda. Ketika teman-temannya bermain di halaman pesantren, Raden Qosim sering terlihat memperhatikan orang-orang miskin yang datang meminta makan atau mengadu soal kesulitan hidup. Suatu hari, saat berusia belasan tahun, ia memberikan jatah makan siangnya kepada seorang pengemis tua yang kelelahan. Ketika sang ayah melihatnya, beliau hanya tersenyum dan berkata, “Kau akan tumbuh menjadi orang yang tidak hanya hafal ayat, tapi menjalankannya dalam hidup.”
Setelah dewasa, Raden Qosim memilih untuk tinggal dan berdakwah di pesisir Paciran, Lamongan, tempat yang kala itu merupakan persimpangan dagang dan budaya. Di situlah ia kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Drajat.
Wilayah Dakwah dan Strategi Sosialnya
Paciran bukan wilayah yang mudah untuk dakwah. Penduduknya sangat beragam: ada pedagang dari luar Jawa, pelaut dari Makassar, nelayan lokal, hingga petani dari pedalaman. Budaya yang berkembang pun campur: tradisi Hindu-Buddha masih kuat, begitu pula kepercayaan animisme.
Namun Sunan Drajat tidak gentar. Ia tidak memulai dakwahnya dari mimbar, melainkan dari pintu rumah-rumah warga miskin. Ia menolong para janda yang tidak punya penghasilan, memperbaiki rumah-rumah reot milik orang miskin, dan menyuplai perahu baru untuk nelayan yang kehilangan kapal akibat badai.
Masyarakat mulai mengenalnya bukan karena khutbah yang panjang, tapi karena tangannya yang ringan membantu dan senyumnya yang tulus menyapa siapa saja.
Metode Dakwah Sunan Drajat
1. Aksi Sosial dan Kemanusiaan
Sunan Drajat percaya bahwa Islam yang tidak membantu orang lapar adalah Islam yang kehilangan ruhnya. Ia mendirikan semacam rumah singgah bagi orang-orang terlantar, dan memberikan makanan setiap hari tanpa memungut bayaran.
Ada cerita tentang seorang anak yatim yang tidak bisa sekolah karena tidak punya seragam. Ketika mendengar itu, Sunan Drajat datang ke rumahnya sendiri membawa pakaian dan mengajaknya belajar di pesantren. Ia kemudian mengangkat anak itu sebagai santri tetap. Bertahun-tahun kemudian, anak itu menjadi salah satu guru agama yang disegani di Paciran.
2. Ajaran Etika Sosial
Salah satu ajaran terkenalnya adalah:
"Wenehono teken marang wong kang wuta, wenehono pangan marang wong kang luwe, wenehono busono marang wong kang wudo, wenehono ngiyup marang wong kang kudanan."
Kalimat ini bukan sekadar petuah, tapi benar-benar dijalani. Setiap ajaran memiliki bentuk konkret di lapangan. Ia menyediakan tongkat bagi orang tua yang sudah tidak bisa berjalan tegak, dapur umum bagi mereka yang tidak punya makanan, pakaian bekas layak pakai yang dikumpulkan dari dermawan, dan rumah-rumah kecil untuk para pengungsi bencana.
3. Pendidikan Moral dan Etika Kerja
Sunan Drajat juga percaya bahwa kemiskinan bisa dilawan dengan ilmu dan kerja keras. Ia mendirikan Pesantren Drajat, di mana para santri bukan hanya belajar agama, tapi juga pertanian, berdagang, hingga membuat kapal kecil.
Ia sering berkata:
"Ojo mangan nek durung nyambut gawe."
(Jangan makan kalau belum bekerja.
Di pesantrennya, santri harus ikut menyapu halaman, mengurus kebun, dan membantu warga sekitar. Konsep ini membentuk generasi muda yang bukan hanya saleh, tapi juga mandiri dan produktif.
4. Seni Sebagai Media Dakwah
Meskipun tidak seaktif Sunan Bonang dalam seni gamelan, Sunan Drajat tetap memanfaatkan seni suara dan gending Jawa. Ia menciptakan lagu-lagu sederhana yang memuat pesan moral, seperti pentingnya bersedekah, menghormati orang tua, dan hidup sederhana.
Ada satu gending yang biasa dinyanyikan anak-anak Paciran:
“Yen sugih ojo ngapusi, yen miskin ojo ngemis”
(Kalau kaya jangan menipu, kalau miskin jangan mengemis)
Bagi masyarakat yang masih akrab dengan budaya lisan, lagu-lagu seperti ini jauh lebih membekas daripada ceramah panjang.
5. Menggabungkan Spiritualitas dan Praktikalitas
Sunan Drajat tidak hanya mengajarkan salat dan puasa, tapi juga cara memperbaiki atap rumah, mengatur keuangan dagang, dan mendamaikan keluarga yang bertikai. Ia adalah ulama, pemimpin, guru, sekaligus teman dekat masyarakat kecil.
Peninggalan-Peninggalan Sunan Drajat
Warisan dari Sunan Drajat tidak hanya berbentuk fisik, tapi juga menyentuh aspek budaya, sosial, pendidikan, hingga spiritual. Berikut adalah peninggalan-peninggalannya yang paling menonjol:
1. Pesantren Sunan Drajat (Pondok Pesantren Darul Ulum Paciran)
Pesantren ini menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam yang ia dirikan di Paciran, Lamongan. Berbeda dengan pesantren lain pada zamannya, Pesantren Sunan Drajat tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu pertanian, perdagangan, dan keterampilan hidup.
Hingga kini, pesantren ini berkembang pesat menjadi lembaga pendidikan yang menyatukan nilai-nilai keislaman dengan kemampuan hidup modern. Ribuan santri datang dari berbagai daerah untuk menimba ilmu dan meneladani gaya hidup sederhana serta empati sosial ala Sunan Drajat.
2. Ajaran Sosial yang Dikenal sebagai Pitu Pitutur
Sunan Drajat meninggalkan falsafah hidup yang dikenal dengan istilah "Pitu Pitutur" (tujuh petuah kehidupan). Ajaran ini disampaikan dalam bahasa Jawa yang indah dan penuh makna, antara lain:
1. Wenehono teken marang wong kang wuta (Beri tongkat pada orang buta)
→ Berarti menolong orang yang kehilangan arah hidup.
2. Wenehono pangan marang wong kang kaliren (Beri makan pada orang lapar)
→ Menekankan pentingnya solidaritas sosial.
3. Wenehono busono marang wong kang wudo (Beri pakaian kepada yang telanjang)
→ Ajaran tentang kepedulian terhadap martabat sesama.
4. Wenehono ngiyup marang wong kang kudanan (Beri tempat berteduh pada yang kehujanan)
→ Wujud perlindungan dan kasih sayang.
5. Ojo seneng mendem (Jangan suka mabuk)
→ Menyerukan gaya hidup sehat dan terhindar dari maksiat.
6. Ojo seneng mangan enak (Jangan terlalu mencintai makanan enak)
→ Pesan hidup sederhana dan menjauhi hawa nafsu.
7. Ojo seneng angin-anginan (Jangan mudah terombang-ambing)
→ Ajakan untuk memiliki prinsip dan pendirian dalam hidup.
Ajaran-ajaran ini masih banyak dijadikan prinsip hidup masyarakat Jawa hingga sekarang.
3. Makam Sunan Drajat dan Kompleks Ziarah
Makamnya yang berada di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan, bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Lokasi tersebut kini menjadi kompleks wisata religi yang dilengkapi dengan museum, masjid, dan area edukasi sejarah.
Museum tersebut menyimpan benda-benda peninggalan Sunan Drajat, seperti:
Replika gamelan yang digunakan untuk dakwah.
Alat pertanian dan perahu mini sebagai simbol pengajaran kemandirian.
Naskah-naskah ajaran Jawa bernuansa Islam.
Kompleks ini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, terutama saat bulan Maulid dan bulan Suro.
4. Lagu dan Gending Dakwah
Sunan Drajat turut menciptakan beberapa gending Jawa (lagu-lagu tradisional) yang digunakan sebagai media dakwah. Lagu-lagu ini mengandung nilai-nilai moral, seperti kejujuran, kerja keras, dan gotong-royong.
Contoh lirik terkenal:
"Urip iku kudu duwe pekerti, ojo mung ngelmu, nanging kudu migunani"
(Hidup harus punya budi pekerti, jangan hanya berilmu tapi harus bermanfaat)
Gending ini masih sering dibawakan dalam pertunjukan budaya dan kegiatan keagamaan di Jawa Timur.
5. Model Dakwah Berbasis Aksi Nyata
Salah satu warisan terbesar Sunan Drajat bukan benda, tapi cara berdakwah. Ia mewariskan model dakwah berbasis tindakan nyata: membantu rakyat miskin, memberdayakan nelayan, memperbaiki ekonomi rakyat, dan mendidik generasi muda untuk menjadi mandiri.
Metode ini menjadi teladan dan inspirasi banyak pesantren modern dan organisasi keislaman, termasuk NU (Nahdlatul Ulama) yang menjunjung tinggi pendekatan sosial dalam dakwah.
6. Pengaruh dalam Kebudayaan Jawa
Peninggalannya juga terasa dalam nilai-nilai budaya Jawa, seperti rasa tepa selira (empati), gotong royong, dan unggah-ungguh (sopan santun). Banyak nilai ini merupakan penguatan dari ajaran Islam yang dibungkus dalam kearifan lokal — metode yang dimulai sejak masa Walisongo, termasuk oleh Sunan Drajat.
Wafatnya Sunan Drajat
Sunan Drajat wafat sekitar tahun 1522 M, namun nilai dan ajarannya tetap hidup hingga kini. Ia meninggalkan warisan yang sangat berarti: bahwa Islam sejati adalah yang hadir dalam perbuatan, bukan hanya perkataan.


Komentar
Posting Komentar