Sunan Muria: Ulama Sufi yang Menyatu dengan Rakyat Jelata
Asal Usul dan Latar Belakang
Sunan Muria, yang bernama asli Raden Umar Said, merupakan salah satu dari Walisongo—sembilan wali penyebar Islam di tanah Jawa yang sangat dihormati. Ia adalah putra dari Sunan Kalijaga, wali yang dikenal sebagai penyebar Islam lewat seni dan budaya. Sedangkan dari garis ibu, ia adalah cucu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Jadi, darah biru dan darah dakwah mengalir bersamaan dalam dirinya.
Namun, meski berasal dari keturunan bangsawan, Sunan Muria lebih memilih hidup sederhana, menyatu dengan rakyat jelata. Ia tak pernah memakai status atau kehormatan keluarganya untuk mendapat tempat, justru sebaliknya—ia datang sebagai teman bagi petani, sahabat bagi nelayan, dan guru bagi rakyat kecil.
Ia tinggal dan berdakwah di sekitar Gunung Muria, sebuah wilayah pegunungan yang sejuk dan sunyi, tempat yang sangat cocok untuk seorang sufi yang mencintai alam dan kesendirian sebagai jalan menuju Tuhan. Dari sanalah namanya dikenal sebagai "Sunan Muria".
Wilayah Dakwah
Berbeda dari wali lain yang lebih aktif di pusat-pusat kota atau lingkungan istana, Sunan Muria lebih memilih desa dan pedalaman. Ia percaya bahwa membangun peradaban harus dimulai dari akar rumput. Daerah dakwahnya mencakup wilayah seperti Kudus, Jepara, Pati, Tayu, Juwana.
Ia tak hanya datang sebagai pendakwah, tetapi juga sebagai pekerja. Ia ikut bertani, membantu memperbaiki jalan desa, bahkan melaut bersama para nelayan. Ada kisah yang menyentuh tentang Sunan Muria yang suatu ketika rela menyusuri sawah dalam hujan hanya untuk menemani seorang petani yang kehilangan hasil panennya. Di tengah lumpur dan guyuran hujan, ia berkata: “Di sinilah Islam itu hadir. Bukan di istana, tapi di hatimu yang sedang patah.”
Metode Dakwah Sunan Muria
1. Melalui Kegiatan Sosial
Dakwah Sunan Muria bukan tentang khutbah panjang atau ceramah menggelegar. Ia lebih suka menyentuh hati melalui perbuatan. Saat ia membantu warga membangun jembatan atau memperbaiki saluran irigasi, ia menyisipkan pesan-pesan kejujuran, kerja sama, dan keikhlasan.
Ia pernah membantu membangun pasar kecil di sebuah desa yang saat itu sulit berkembang karena rawan konflik pedagang. Sunan Muria tidak hanya menjadi penengah, tapi juga mengajarkan etika berdagang dalam Islam, seperti tidak menipu timbangan dan mengutamakan kejujuran. Pasar itu akhirnya berkembang, dan hingga kini dikenang sebagai tempat pertama kali ia menyampaikan dakwah ekonomi berbasis etika.
2. Kesenian dan Budaya Lokal
Sebagai pewaris metode ayahnya, Sunan Kalijaga, Sunan Muria juga gemar menggunakan kesenian lokal untuk berdakwah. Ia menciptakan tembang-tembang seperti Sinom dan Kinanti, yang di dalamnya sarat akan ajaran moral Islami.
Dalam sebuah kisah, ia membuat pertunjukan wayang kulit yang mengangkat cerita Pandawa dan Kurawa. Namun, ia mengubah alur ceritanya sedikit demi sedikit—bukan untuk menghilangkan budaya, melainkan menyisipkan pesan spiritual. Di akhir pertunjukan, penonton disadarkan bahwa kemenangan sejati bukan milik yang kuat secara fisik, tapi yang sabar dan jujur.
3. Pendidikan Lewat Alam
Gunung, sungai, dan ladang bukan hanya tempat tinggal Sunan Muria, tapi juga madrasah tempat ia mengajar. Ia sering mengajak warga melihat keindahan matahari terbit dari lereng Muria, lalu berkata: “Jika engkau bisa kagum pada ciptaan seperti ini, bagaimana mungkin tidak mengagumi Sang Pencipta?”
Metode tasawufnya sederhana tapi dalam. Ia mengajarkan bahwa melihat pohon yang tumbuh pun bisa menjadi bentuk dzikir, jika hati kita sadar dan penuh rasa syukur.
4. Menghindari Konfrontasi Langsung
Sunan Muria tidak suka memaksa atau berdebat keras. Ketika ada yang menolaknya atau masih memegang kepercayaan lama, ia tidak mencela. Ia malah menghormatinya.
Dalam satu cerita, seorang tokoh desa mengujinya dengan menantang argumen agama. Alih-alih membalas dengan debat, Sunan Muria justru mengajak orang itu makan bersama, berbincang soal kehidupan, dan perlahan menyampaikan ajaran Islam. Hasilnya? Orang itu masuk Islam bukan karena kalah debat, tapi karena luluh oleh kelembutan hati Sunan Muria.
Peninggalan-Peninggalan Sunan Muria
1. Masjid Sunan Muria
Terletak di ketinggian Desa Colo, Kudus, masjid ini menjadi saksi bisu perjuangan dakwahnya. Meski sederhana, masjid ini dibangun dengan semangat gotong royong. Konon, masyarakat setempat dulu menyumbang bahan bangunan dari hasil panen mereka—padi, singkong, bahkan pisang.
Setiap batu dan kayu di masjid ini seolah mengandung cerita. Di sinilah Sunan Muria mengimami salat, mengajar anak-anak mengaji, dan menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk diskusi dan musyawarah desa. Sampai hari ini, masjid ini tetap aktif digunakan dan menjadi destinasi spiritual bagi ribuan peziarah.
2. Tembang-Tembang Dakwah
Sunan Muria menciptakan tembang Jawa yang terkenal, seperti Sinom, Kinanti, dan Durma. Lirik-liriknya berisi ajaran hidup sederhana, sabar, dan selalu ingat kepada Tuhan.
Misalnya, dalam salah satu bait tembang Sinom disebutkan:
Sinom kembang ingkang wangi,
Laku utama kang kudu tiniru,
Aja gumunggung, aja ngajrihi,
Urip iku mung mampir ngombe.
Artinya, manusia hidup seperti bunga yang akan layu. Jangan sombong, jangan takut, karena hidup hanyalah persinggahan. Tembang ini dinyanyikan dalam acara-acara desa dan masih digunakan dalam pagelaran tradisi Jawa hingga kini.
3. Tradisi Sedekah Gunung
Sunan Muria tidak menghapus tradisi lokal, melainkan menyelaraskannya dengan ajaran Islam. Salah satu tradisi yang ia kembangkan adalah Sedekah Gunung.
Dulu, masyarakat sekitar Gunung Muria punya tradisi memberi sesaji kepada gunung. Sunan Muria tidak melarang, tapi mengubah maknanya. Ia mengajarkan bahwa pemberian itu bukan untuk gunung, tapi sebagai wujud rasa syukur kepada Allah atas hasil bumi. Dari sinilah lahir tradisi Sedekah Gunung yang hingga kini dilakukan di sekitar Kudus dan Jepara.
Tradisi ini biasanya melibatkan doa bersama, berbagi hasil panen, dan kegiatan sosial seperti bersih desa dan pembagian makanan. Nilai Islam dan budaya menyatu dalam harmoni.
4. Makam Sunan Muria
Makamnya terletak di puncak Gunung Muria, Desa Colo, Kudus, dan menjadi salah satu tempat ziarah paling terkenal di Jawa Tengah. Meski harus mendaki jalan yang terjal dan melelahkan, ribuan peziarah tetap datang setiap tahun.
Perjalanan menuju makam bukan sekadar fisik, tapi juga spiritual. Di tengah perjalanan, peziarah akan melihat lanskap alam yang indah, dan di situlah mereka diajak merenung—seperti yang dahulu dilakukan Sunan Muria bersama murid-muridnya.
Makam ini dipercaya menyimpan aura spiritual yang kuat. Banyak yang datang bukan hanya untuk berdoa, tapi juga mengambil inspirasi dari hidup sederhana dan penuh kasih Sunan Muria.
Wafatnya Sunan Muria
Sunan Muria wafat sekitar tahun 1551 M, dalam usia yang tidak terlalu tua. Ia dimakamkan di tempat yang tinggi, seolah memperlihatkan kedekatan batinnya dengan langit, dengan Sang Khalik.
Meski raganya telah tiada, semangat hidup, ajaran moral, dan pendekatannya yang lembut masih terus hidup di hati masyarakat Jawa. Ia tidak hanya dikenang sebagai ulama, tapi juga sahabat rakyat kecil yang menyebarkan Islam tanpa paksaan, tanpa intimidasi—hanya lewat cinta dan teladan.
Penutup
Sunan Muria adalah contoh nyata bahwa dakwah tak selalu harus keras, bahwa agama bisa tumbuh di ladang-ladang dan hutan-hutan, bukan hanya di masjid dan istana. Ia hadir sebagai teman bagi petani, nelayan, dan rakyat kecil yang haus akan kebaikan.
Melalui pendekatannya yang membumi, Islam tumbuh subur di desa-desa Jawa dengan damai dan penuh cinta. Sunan Muria mengajarkan kita bahwa jalan menuju Tuhan bisa ditempuh lewat ketulusan, kesederhanaan, dan kasih sayang kepada sesama.




Komentar
Posting Komentar